Kamis, 17 Desember 2009

Bahan Kotbah Minggu, 12 Desember 2009:
Zefanya 3:14-20, Yesaya 12:2-6, Filipi 4:4-7, Lukas 3 : 7-18
Thema : SUKACITAKU - SUKACITAMU

Hari ini kita memasuki minggu advent yang ke 3. Hari-hari dimana Natal semakin mendekat. Gema sukacita Natal semakin terasa melalui lagu-lagu Natal yang sering kita dengar di berbagai tempat. Berbagai toko swalayan mulai menghias interiornya dengan thema Natal, pojok toko dipasang pohon Natal dengan berbagai pernak-pernik yang menarik termasuk lampu Natal yang berkedip-kedip, lagu-lagu instrument Natal mulai diperdengarkan, lorong-lorong pertokoan dipasang gambar – gambar yang bertemakan Natal, dan tidak mau kalah para kasir toko mulai menggunakan topi sinterklas. Di televise, di tengah-tengah siaran berita tentang kasus bank Century dan kasus Antasari, diselingi dengan tawaran RBT (ring back tone) lagu-lagu Natal yang gratis, (padahal tidak). Semua itu merupakan bentuk kesukacitaan dalam menyambut hari Natal.

Bapak ibu dan sdr yang terkasih, thema kotbah kali ini adalah : SUKACITAKU - SUKACITAMU


Bapak ibu dan sdr yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, benarkah Natal selalu membawa sukacita bagi semua orang ? Benarkah hari Natal selalu menyenangkan hati semua orang? Tidak selalu. Ada orang yang semakin sedih ketika perayaan Natal semakin mendekat. Kenapa ? Karena perayaan Natal tahun ini adalah perayaan Natal pertama, dimana mereka tidak didampingi oleh orang-orang yang mereka cintai. Seorang suami/istri yang pada tahun ini ditinggal pasangan hidupnya, karena sudah mendahului pulang ke rumah Bapa, merasa bahwa Natal kali ini merupakan Natal yang kelabu. Seorang pemuda/pemudi yang merayakan Natal tanpa kehadiran kekasih hatinya karena sudah pindah ke lain hati, atau seorang anak merasa bersedih ketika Natal semakin mendekat, karena teringat akan kedua orangtuanya yang sudah dipanggil Tuhan dalam suatu kecelakaan, misalnya. Ada juga yang menyambut Natal dengan kesedihan, karena menjelang Natal mereka justru terkena Pemutusan Hubungan Kerja. Pendek kata , selalu ada kemungkinan seseorang menyambut Natal justru dengan kesedihan, dengan dukacita. Mereka merasa…ah Natal kali ini sungguh suatu hari Natal yang kelabu, aku tidak akan berangkat dalam perayaan Natal nanti karena tidak ada seseorang yang menemani, karena tidak ada baju baru yang mampu aku beli, karena kecewa dengan situasi dan kondisi yang ia alami menjelang perayaan Natal.

Dalam kerangka berpikir semacam ini, maka berita yang disampaikan nabi Zefanya menjadi sangatlah penting. Nabi Zefanya memberitakan tentang Allah yang datang dengan kasih-Nya menyapa Israel yang berdosa, yang tengah lemah lesu, tengah kehilangan semangat. Seperti tertulis dalam Zefanya 3:16-17 ; Pada hari itu akan dikatakan kepada Yerusalem,”Janganlah takut hai Sion! Janganlah tanganmu menjadi lemah lesu. Tuhan Allahmu ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan.” Karena keberdosaannya, Israel menjadi lemah, dan tak berdaya. Namun sungguh luar biasa, Allah bersedia berdamai dengan umat Israel yang berdosa. Bahkan Allah berkenan hadir di tengah umat-Nya dan memberikan anugerah-Nya. Allah bersedia untuk menjanjikan keselamatan. Berita nabi Zefanya ini bukan hanya bergaung pada masa Israel kuno, akan tetapi sekaligus menjadi berita yang bergaung di masa raya Natal pada masa kini.

Memang kadang situasi hidup membawa kita untuk menyambut Natal dengan kekosongan, dengan kesepian, dengan kesedihan dan dengan kesendirian. Namun berita nabi Zefanya mengingatkan kita bahwa Allah hadir bersama kita. Kita tidak pernah seorang diri dalam menyambut Natal, apapun persoalan kita. Seperti nasihat rasul Paulus kepada jemaat di Filipi, yang tertulis dalam Filipi 4:4-7, Paulus mengajak jemaat untuk selalu bersukacita dalam Tuhan. Bersukacita dalam Tuhan bukan berarti bahwa jemaat terbebas dari masalah. Hidup selalu bisa menghadirkan persoalan yang kadang membuat kita kuatir, cemas dan takut. Namun Paulus mengingatkan, bahwa kita punya Allah yang selalu mau mendengar segala kekuatiran melalui doa. Melalui doa, Tuhan memelihara hati dan pikiran kita dan menyingkirkan segala kekuatiran dan menghadirkan damai sejahtera.

Bapak, ibu dan sdr yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus….
Natal sekaligus merupakan panggilan buat kita yang telah dipulihkan Allah untuk memberikan bantuan kepada banyak orang yang perlu dibantu, agar mereka bisa menyambut dan menghayati kedatangan Tuhan secara layak dan pantas. Sehingga banyak gereja, melalui sub komisi-sub komisi yang ada mencoba memberikan tindakan nyata dalam meringankan beban penderitaan sesamanya melalui pengadaan bazaar, pasar murah, pembagian sembako, pengobatan gratis dan sebagainya. Seperti apa yang akan dilakukan oleh Komisi Pekabaran Injil, akan mengadakan pasar murah, menjual beberapa dari sembilan bahan pokok dengan harga dibawah pasar. Demikian juga apa yang akan dilakukan oleh komisi Diakonia, mereka akan mengadakan aksi Natal, sebagai bentuk nyata dalam meringankan penderitaan sesama kita. Kita sebagai umat Allah yang sudah diselamatkan, bisa ikut membantu dalam aksi Natal tersebut, seberapapun yang kita mampu. Mungkin hanya 1 kilogram beras yang kita mampu, tetapi dengan sekian jemaat yang mengumpulkan bersama, maka akan terkumpul sekian puluh kilogram beras, yang nantinya dapat dibagikan kepada sesama kita yang lebih membutuhkan.

Bapak ibu dan sdr, berkaitan dengan tindakan nyata akan kepedulian kita terhadap warga miskin yang ada di sekitar kita, hal itu merupakan buah dari pertobatan kita. Dalam Injil Lukas 3:11, tertulis :”Barangsiapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membagikannya dengan yang tidak punya, dan barang siapa mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian.” Tindakan-tindakan nyata seperti inilah yang dinanti – nanti oleh sesama kita, bukan hanya janji-janji, atau keangkuhan kita yang menyatakan bahwa kita anak Abraham, sehingga Allah kemudian memberikan keselamatan bagi kita. Adat istiadat kita, yang sering kita lakukan adalah menumpuk barang-barang yang kita miliki tetapi sudah tidak kita gunakan di dalam lemari, sehingga lemari penuh sesak dengan baju-baju yang sebenarnya sudah tidak kita pakai. Ada perasaan sayang untuk diberikan kepada orang lain. Padahal apabila kita membagikan baju-baju itu kepada orang lain yang membutuhkan, ada dua hal yang kita peroleh. Yang pertama, ucapan terimakasih dari mereka yang kita beri, dan kedua ada ruang kosong di lemari kita, sehingga siap untuk diisi dengan baju yang baru. Demikian juga barang-barang rongsokan yang ada di sisi-sisi rumah kita, bukankah justru akan menjadi sarang nyamuk bila tidak kita buang, atau kita berikan kepada orang lain jika memang masih layak pakai ?

Bapak ibu dan sdr, hari Natal sudah semakin mendekat, dan kita diingatkan untuk dapat berbagi sukacita yang kita rasakan. Melalui tindakan-tindakan nyata seperti membagi makanan di saat Natal, atau mengumpulkan pakaian pantas pakai yang kemudian kita kirim ke suatu yayasan, atau tindakan-tindakan nyata yang lain. Namun apabila Natal tahun ini merupakan natal dimana kita sudah tidak didampingi oleh orang-orang yang kita kasihi, kita perlu mengingat bahwa kita merayakan kehadiran bayi Yesus di bumi ini, yang kemudian menyelamatkan dosa-dosa kita umat percaya. Sehingga kita tidak pantas beralasan untuk tidak merayakan natal karena kesedihan kita. Mari kita songsong hari Natal nanti dengan penuh sukacita. Amin


Tidak ada komentar:

Posting Komentar