Sabtu, 20 Maret 2010

PERTOBATAN MENDATANGKAN PENGAMPUNAN

Lukas 15:1-3; 11b-32
Bapak ibu dan saudara yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus
Setiap manusia yang normal pasti mempunyai kesenangan. Entah kesenangan itu hanya sebatas untuk menghilangkan kejenuhan dari pekerjaan sehari-hari yang sangat melelahkan, sehingga setelah menikmati kesenangan itu pikiran menjadi fresh kembali, Contoh saja acara Televisi.


Ibu-ibu merasa senang setelah melihat sinetron di malam hari setelah seharian mengurus rumah tangganya. Yang masak, cuci piring, cuci pakaian, seterika, ngepel, dan sebagainya, sehingga saat malam tiba para ibu bisa sedikit santai menikmati acara sinetron yang mereka sukai. Bapak-bapak senang dengan tayangan yang sedikit mengarah ke kompetisi, seperti siaran tinju, balap motor, balap mobil, sepak bola. Atau anak remaja yang senang dengan tayangan Opera Van Java, atau bukan empat mata yang membuat mereka ngakak karena lucunya acara tersebut. Ada juga seseorang yang mempunyai kesenangan tetapi arahnya ke hobby, seperti ibu A hobbynya memasak (wah itu mungkin sudah bukan hobby lagi tetapi pakaryan), atau ibu B hobbynya ngrumpi. Selesai masak, mereka kencan dengan ibu yang lain untuk bersama-sama ngrumpi, ngrasani ngalor ngidul sambil selalu dibumbui, sehingga ngrumpinya semakin seru. Atau ibu C yang punya hobby arisan, setiap ada arisan pokoknya ikut. Di kampung ikut, di kantor ikut, di sekolahan ikut. (Ya gapapa, yang penting bertanggung jawab dan tahu situasi keuangan keluarga. Yang penting ga ikut arisan brondong, hehehehehe). Bapak-bapak tidak mau kalah, masing-masing punya hobby tersendiri, ada yang hobbynya mancing, katanya mancing itu melatih kesabaran. Padahal kalau pulang dari mancing dan tidak dapat apa-apa, justru malah marah-marah, atau ada juga bapak-bapak yang malu dengan keluarga, ketika mancing dan tidak dapat apa-apa trus beli ikan di pasar, biar kelihatan pemancing sukses. Ada juga yang hobbynya bulutangkis, sepak bola, tenis dan sebagainya. Bapak ibu dan saudara memang kesenangan-kesenangan atau hobby seseorang tidak salah dilakukan. Yang penting bertanggungjawab, tahu situasi, tidak melawan ajaran Tuhan. Tetapi apa yang dilakukan si bungsu dalam bacaan tadi merupakan kesenangan yang melanggar ajaran Tuhan.
Ketika mendapatkan harta warisan dari ayahnya, ia memboroskan harta miliknya untuk bersenang-senang dan berfoya-foya. Ia benar-benar menikmati kesenangan duniawinya. Sehingga hartanya habis, ludes dan jatuh melarat. Untuk menghidupi dirinya saja ia tidak mampu. Sehingga ia berusaha mencari majikan, dengan maksud dapat mengisi perutnya dengan ampas sebagai makanan babi, tetapi tidak ia peroleh juga. Di saat krisis semacam itu, ia mulai sadar bahwa bapanya adalah seorang yang kaya raya, seorang majikan yang mempunyai orang-orang upahan, sehingga ia memutuskan untuk berbalik kepada bapanya dengan maksud agar ia bisa dijadikan salah seorang upahan bapanya. Namun apa yang ia terima ternyata jauh dari pikirannya. Ketika bapanya tahu kalau ia pulang, sangat gembiralah hati bapanya, sehingga ia merangkulnya dan menciumnya, lalu mengutus hamba-hambanya untuk mengambilkan jubah yang terbaik, juga cincin dan sepatu pada kakinya dan mengadkan pesta. Apa yang dilakukan si bungsu ini sangatlah kelewatan, menghambur-hamburkan kekayaan ayahnya untuk kesenangan-kesenangan yang menyesatkan. Tetapi untunglah ia sadar dan mau berbalik kepada bapanya.
Bapak ibu dan saudara sekalian
Ketika manusia mengalami penderitaan besar yang dikarenakan dosa dalam hidupnya, dapat membuat manusia putus asa, dan jika tidak tertahankan dapat melakukan bunuh diri. Namun adakalanya penderitaan hidup membuat manusia sadar dan melakukan pertobatan, seperti yang dilakukan si bungsu. Memang kadang kala kesenangan duniawi dapat melupakan kita akan tuntunan Yesus dalam hidup kita. Meski sering kali kesenangan duniawi tersebut tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Ilustrasi berikut menggambarkan bagaimana seseorang tergoda dengan kesenangan yang ditawarkan dunia, namun ternyata manusia tidak mendapatkan apa-apa. (Putarkan Film Waiting 2.)

Ilustrasi tadi sangat mirip dengan kisah yang terdapat dalam injil Lukas 15:11b-32. Ketika seorang berjalan bersama Yesus ia merasa damai, merasa gembira. Namun saat ada godaan berupa sesuatu yang menyenangkan, meski itu entah benar-benar menyenangkan atau hanya sebatas godaan, anak tersebut mulai meninggalkan Yesus. Tetapi memang ia tidak meninggalkan Yesus selamanya. Ia berkata “I will be right back”. Saya akan kembali nanti. Dan dengan langkah lebar penuh optimis ia mulai mencari dimana kesenangan itu berada. Ia berjalan dan terus berjalan, namun sekian jauh ia berjalan, kesenangan itu tidak ia peroleh juga, bahkan jalanan mulai berbatu-batu, dan anak tadi mulai kelelahan. “Aku sudah berjalan sejauh ini tapi aku tidak menemukan apa-apa .” Lalu ia mulai sadar dan mencoba kembali berbalik kepada Yesus sambil berpikir seberapa lama Yesus mau untuk menunggunya. Dan ternyata, janji Yesus ditepati, ia tetap menunggu kembalinya anak tersebut, bahkan Yesus sudah menyediakan kemah dan makanan saat anak itu kembali.
Sangatlah indah ketika seseorang sadar akan kesalahannya, sadar akan dosa-dosanya dan mau berbalik kepada Tuhan dan berjanji untuk tidak melakukan perbuatannya. Namun ternyata bukan perkara yang gampang seseorang mau untuk bertobat. Dibutuhkan kesadaran, penyangkalan diri dan tekad atau niat yang sungguh-sungguh. Ketika kita sadar bahwa hidup dalam dosa akan membawa penderitaan, maka kita harus berani jujur dan terbuka terhadap Tuhan dan diri sendiri, dan berani mengakui dosa-dosa kita dihadapan Tuhan dan mempunyai niat untuk kembali menjalani hidup bersama Tuhan.
Sedikit cerita bagaimana bilik-bilik pengakuan dosa di gereja-geraja Katholik mulai ditinggalkan para jemaat, karena merasa bahwa dosa-dosa kecil yang mereka perbuat sudah hal yang lumrah, dan sudah tidak perlu lagi mengakui akan dosa-dosanya di hadapan Romo. Mereka akan memenuhi bilik-bilik pengakuan dosa, ketika mendekati perayaan Jumat Agung, atau perayaan Natal. Padahal buah dari pertobatan adalah pengampunan. Pengampunan akan dosa-dosa kita merupakan anugerah terbesar dari Allah. Akan membuahkan relasi baru dengan Allah. Dan buah dari pengampunan adalah sukacita, damai dan sejahtera.
Pertobatan tidak hanya sekedar kata-kata, tetapi berupa suatu tindakan nyata, bukan sesuatu yang harus kita kurangi porsi dosa kita, tetapi perubahan total, perubahan yang mengarah 1800 dari kehidupan lama kita.
Bapak ibu dan saudara, ada satu ilustrasi seorang pendeta yang ragu-ragu dengan pertobatan dari seseorang, sehingga ia memberi kelonggaran terhadap suatu pertobatan.
Diceritakan ada seseorang yang datang dan berkata bahwa ia ingin menjadi seorang Kristen. Lalu ia menjawab: ”Itu bagus kawan, tetapi ada masalah apa?” Orang tadi tampak ragu-ragu tapi akhirnya ia berkata:”Saya telah mennggelapkan uang perusahaan.”
“Berarti anda telah mencuri. Memang berapa banyak?”
Orang tadi menjawab: “Saya sudah lupa.”
“Apakah 1500 dolar?” tanya pendeta itu.
“Ya saya kira sejumlah itu.”
“Sekarang begini kawan, saya tidak yakin sesuatu bisa berubah dengan sekejap. Berjanjilah untuk tidak mengambil lebih dari 1000 dolar dalam tahun ini. Dan tahun depan jangan mengambil lebih dari 500 dolar dan setelah beberapa tahun Anda tidak mencuri lagi satu sen pun. Nah bila ketahuan oleh majikan anda kataka nanda sedang dalam proses menjadi Kristen dan secara bertahap sedang membiasakan untuk tidak mencuri.” Pendeta ini sepertinya memberi nasihat yang baik kepada seseorang tadi, tapi jelas-jelas tidak benar.
Itu suatu penyesatan yang sempurna. Alkitab mengatakan Barang siapa yang mencuri jangan mencuri lagi Ini cukup jelas.
Namun, kita seringkali berbuat semacam itu, seringkali kita berpikiran, dulu kan saya setiap hari berjudi, sekarang tinggal 3 hari sekali, atau dulu saya kan sering mabuk-mabukan, tapi sekarang hanya kadang-kadang, kadang pagi, kadang malam.
Bapak ibu dan saudara, meski setiap saat kita bisa mengakui kesalahan kita dihadapan Tuhan, namun di masa pra paskah ini, merupakan kesempatan yang sangat baik untuk merenungkan akan kesalahan-kesalahan kita, akan dosa-dosa kita dan merupakan saat yang tepat untuk bertobat, berbalik dari kehidupan lama kita ke kehidupan yang baru, hidup dibawah terang roh kudus. Kita bisa merenungkan betapa Allah tetap menanti pertobatan kita, meski kita telah meninggalkan Tuhan. Dan Tuhan telah rela untuk menebus dosa-dosa kita dikayu salib. Balasan apa yang patut kita berikan ? Amin.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar